Teras rumah

Postingan ini merupakan lanjutan Lentera hati

~

Di hari ulang tahun Iban, ketiga sahabat berkumpul di teras rumah Iban yang berukuran  lima kali tiga meter persegi. Teras rumah Iban terbuka dengan dua kayu penyangga di kedua pojoknya seakan membiarkan angin bebas bertamu. 

Angin selalu berhembus di setiap sore menyapa daun-daun pohon mangga di sebelah barat teras rumah, menimbulkan suara gemerisik yang mengiringi gerak daun yang menari. Daun yang tak kuat berpegangan tangan pada tangkai jatuh karenanya. 

‘Ini untukmu Ban’ kata Fadil memberikan hadiah yang tadi malam dibungkusnya dengan kertas sampul buku berwarna coklat. Iban membuka bungkus kado, ternyata sebuah buku cerita, Iban membaca judulnya : Tintin – Ekspedisi ke Bulan.

‘Kami ingat kamu ingin jadi Astronout’ kata Damar.

‘Terima kasih’ kata Iban bahagia.

Fadil dan Damar mengetahuinya sebulan yang lalu di teras rumah Iban, ketika Iban bercerita tentang mimpinya menjadi ilmuwan yang dapat melihat bumi dari luar angkasa. Pasti indah. 

‘Aku ingin jadi pengusaha’ kata Fadil.

Iban dan Damar mengangguk tanda mendukung. Mereka tahu Fadil yang selalu bersemangat mengayuh sepeda dengan kecepatan tinggi. Seperti pukulan McEnroe yang deras ke arah lawan dan membuat dirinya menjadi juara Wimbledon.

‘Aku mau mendaki pegunungan Jayawijaya..’ kata Damar.

Fadil dan Iban tertegun, mereka tidak bisa menyembunyikan rasa kagum. Namun Fadil dan Iban bisa membayangkan Damar berdiri di puncak pegunungan yang tertutup salju abadi itu. Pasti juga indah.

Sore itu, di teras rumah Iban.. ikrar persahabatan dan cita-cita ketiga sahabat diucapkan. Ditulis bersama angin yang berhembus kencang membawanya terbang ke atas menembus awan.

‘Ban, aku habiskan kue mangkuknya ya’ pinta Fadil.

‘Aku juga mau..’ Damar buru-buru menyambung.

Mereka menikmati petualangan rasa sirup frambozen dengan es batu dan kue mangkuk buatan Ibu Iban. Iban tidak terlalu peduli kue ulang tahunnya yang hampir habis. Seleranya ada pada buku cerita baru yang sedang asyik dibacanya. 

Ayah Iban datang menyapa mereka. ‘Ayah akan ke Jakarta hari Minggu besok, jika diperbolehkan kalian boleh ikut..’. Fadil dan Damar saling berpandangan, ya..itu tandanya mereka harus segera mengurus visa izin dari orang tua. 

Fadil dan Damar bergegas pamit, mereka tidak berjalan ke arah tangga tapi naik ke dinding teras setinggi lutut di depan mereka. Rumput halaman terhampar luas di depan teras, warna hijaunya seperti diwarnai oleh crayon. 

Fadil dan Damar meloncat gembira dan berlari pulang. Seandainya saja ada juru foto yang bisa menghentikan detik waktu untuk merekam gaya mereka ketika meloncat : horee ke Jakarta!..  – klik –

Iklan

Tentang Keping Hidup

Coretan kisah, renungan, makna untuk menyusun keping pengalaman hidup menjadi sebuah gambar utuh yang indah, semoga...
Pos ini dipublikasikan di Story dan tag , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , . Tandai permalink.

28 Balasan ke Teras rumah

  1. MattWahyu berkata:

    lanjut teruuuuus ceritanya, sip tenan

  2. kang ian berkata:

    assikk ke jakarta naik KRL 2000 perak kekeke

  3. kutukupret berkata:

    ya seandainya saja ada yang mengabadikan pemandangan ke3 sahabat yg akan pergi ke JKT itu karna saat mereka berjuang di JKT nantinya mereka akan mengetahui JKT ga seindah yg dibayangkan
    cerita selanjutnya ku tunggu sob 🙂

  4. Didien® berkata:

    waahhh ternyata masih berlanjut juga tulisannya….
    kira² sampe seri berapa neh?xixixixixi…
    pakabar mas Indra dan keluarga?

    salam, ^_^

    • Keping Hidup berkata:

      Sepertinya edisi tidak terbatas – unlimited edition – 😀
      Salam untuk mas Didien.. Alhamdulillah kami sehat semoga demikian juga dengan Mas Didien dan keluarga Amiin.

  5. Pendaki berkata:

    Salut… cerita yang mengasikan…..
    Catatan:Gunung tidak ditaklukan. tapi untuk di nikmati keindahan ciptaan-Nya…
    salam ….
    http://pendakijogja.wordpress.com/2010/05/08/persiapan-dan-perlengkapan-dalam-pendakian/

  6. sunarnosahlan berkata:

    kutunggu kelanjutannya

  7. Usup Supriyadi berkata:

    Teruskanlah….. 😉

  8. Bee'J berkata:

    ini kisah waktu masih remaja ya? berarti berlanjut sampe ke usia dewasa.. berkeluarga.. dst…? mantab! 😀

  9. Ifan Jayadi berkata:

    Potret kehidupan yang selalu bisa membuat tersenyum takkala anak2 itu ceria menghabiskan waktunya

  10. khatulistiwa berkata:

    hmm..menarik, saya tunggu cerita selanjutnya

  11. lapor..
    link sudah terpasang…
    laporan selesaiii 😀

    salam persahabatan ,-

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s