Duduk di pohon

PostinganΒ ini merupakan serial cerita Fadil, Iban dan Damar

~

Di siang hari yang terik, Fadil, Iban (nama sebenarnya Gibran) dan Damar bersepeda dengan kencang. Ketika sampai di bawah sebuah pohon rindang, mereka sengaja menekan rem di stang kemudi dengan mendadak sehingga meninggalkan tapak ban sepeda di tanah.

Fadil dan Iban meletakkan sepeda mereka yang tidak mempunyai standar di tanah, Damar menyandarkan sepedanya dengan perlahan pada batang pohon. Ketiganya dengan cekatan naik ke pohon tempat mereka sering bermain.

Hoi! teriak Fadil ketika dia sudah duduk di batang pohon, hoi.. hoi.. sambut kedua sahabatnya, menimbulkan efek gema seakan mereka berada di tempat yang tinggi. Padahal Iban yang berbadan gemuk duduk di batang pohon paling rendah yang tingginya hanya dua meter dari tanah. Dia nyaman disitu.

Mereka bermain ‘mobil-ku’, Fadil yang pertama mengusulkan permainan ini, entah darimana datangnya ide itu yang jelas Fadil selalu menemukan permainan baru. Mereka secara bergantian menganggap mobil yang lewat di jalan raya di hadapan mereka adalah milik mereka.

Damar bersorak ketika sebuah mobil sedan lewat, dia selalu mendapat giliran pertama dalam permainan karena berdasarkan abjad namanya selalu di panggil terlebih dahulu oleh guru di sekolah. Kedua sahabatnya ikhlas.

Ketika giliran Fadil, lewat sebuah mobil pick up warna putih berjalan perlahan terlihat keberatan dengan muatan sayuran yang penuh di belakangnya. Ketiganya tertawa bahagia menikmati permainan di bawah pohon rindang mereka.

Mereka bergantian meneriakkan ‘itu mobil-ku!’ seiring makin ramainya lalu lintas jalan. Tidak terasa waktu sudah mendekati pukul dua siang. Iban tiba-tiba meloncat turun ke tanah dari tempat duduknya. ‘Mau kemana Ban?’ tanya kedua sahabatnya serentak.

‘Aku lupa.. tadi disuruh ibu membeli sirup Frambozen di kedai pak Haji sepulang dari sholat Dhuhur’. Iban terlihat agak panik, anak yang sangat patuh kepada ibunya ini paling tidak mau melihat ibunya kecewa.

“Ikut!” seru kedua sahabatnya serentak. Iban tidak peduli, dia sudah siap di atas sepeda tangannya di stang kemudi dan mengayuh kuat-kuat meninggalkan kedua sahabatnya. Fadil yang juga meloncat sudah siap mengayuh sepedanya, namun dia mengaduh karena rantai sepedanya lepas..

Damar turun dengan perlahan dari pohon dan mengambil sepedanya yang tersandar. Dia mengayuh sepedanya perlahan melewati Fadil yang masih jongkok membetulkan rantai sepedanya. ‘Duluan ya Dil..’ katanya menggoda sambil tertawa.

“Tunggu Mar..” kata Fadil terus sibuk membetulkan rantai, dia memutar pedalnya berlawanan arah jarum jam ke belakang agar rantai kembali ke tempatnya. Akhirnya berhasil juga.. cepat dia naik ke sepedanya dan dikayuhnya kuat-kuat menyusul ke dua sahabatnya itu, ‘Hei tunggu aku!’

Iklan

Tentang Keping Hidup

Coretan kisah, renungan, makna untuk menyusun keping pengalaman hidup menjadi sebuah gambar utuh yang indah, semoga...
Pos ini dipublikasikan di Story dan tag , , , , , , , , , , . Tandai permalink.

38 Balasan ke Duduk di pohon

  1. pertamax nih? πŸ˜€
    linknya sudah saya pasang mas..trims

  2. Ceritanya membuat rindu masa kecil πŸ™‚

  3. Ah, teringat teman2 kecil saya.. ntah dimana skarang.. πŸ™‚

  4. ian abuhanzhalah berkata:

    wah asiik uy mengenang jaman dulu sepeda sepedaan xixi

  5. sunarnosahlan berkata:

    kenangan masa kanak-kanak yang indah

  6. tommy berkata:

    jadi ingat dulu waktu masih kecil, sering main sepeda. dan main tarzan-tarzanan di pepohonan.

  7. yanrmhd berkata:

    hahayyy, sebuah persahabatan yang indah ^_^

    bisa terbayang wajah2 mereka yang selalu ceria

  8. Asop berkata:

    Jadi pengen naik sepeda… πŸ˜€

    • mycorner berkata:

      Kalau di Jakarta ada ‘car free day’ di Thamrin Sudirman, kalau tidak salah minggu ke 4 setiap bulan – ayo main kang Asop di jalan protokol πŸ˜€

  9. Usup Supriyadi berkata:

    alhamdulillah, meski saya tidak bisa mengendarai motor, tapi sepeda mah bisa atuhhh . hahaha, suka sore-sore keliling ……

  10. Sapril berkata:

    Pak Indra cerpennya keren. Selalu terasa suasana yang digambarkan. *Sepedaku di mana ya?*

  11. Berdebu berkata:

    trus jadi ndak mbeliin sirup ibunya????
    salam kenal…n tukeran link ya….

  12. sapta berkata:

    hmm.. saya jd teringat masa kecil yg suka bgt main sepeda ma teman2.. begitu indah dan susah untuk dilupakan keceriaan itu.. hehe.. πŸ˜€

  13. Bee'J berkata:

    kenangan masa kecil saya yang indah apa yaah…

    *mikir sambil garuk2 kepala*

  14. tyan's berkata:

    kenangan masa lalu yang indah…..& takkan bisa terulang….,

  15. didin berkata:

    duduk dibawah pohon ditengah terik matahari sambil benggong, uenakee…

  16. kutukupret berkata:

    postingannya jadi mengingatkan saya ttg kampung saya, soalnya cuma di kampung ada banyak pohon πŸ˜€

  17. hanif berkata:

    Kok rasanya akhir cerpennya masih menggantung y?

  18. orange float berkata:

    abis main bareng teman-teman trus pulang minum es jeruk. suegerrrr….. πŸ˜†

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s