Menari di awan

‘Bagus juga ya..‘ puji saya begitu melihat layangan bergambar yang berwarna-warni hasil KTS (kerajinan tangan siswa) anak bungsu.

‘Banget..’ kata si bungsu menyombong, anak ini pantang dipuji.. langsung menyambar seperti kucing melihat peluang menerkam rendang yang sudah diincarnya sejak tadi.

‘Dapat berapa nilainya?’ tanya saya ingin mengetahui apakah benda seni ini juga cantik menurut gurunya.

‘Ya seratuslah..’ betul khan kata saya tadi.. si bungsu memang pantang dipuji.

‘Ah.. masak seratus.. memangnya matematika’ jawab saya tidak setuju, skor menjadi berimbang satu sama.

Si bungsu tertawa berderai.. seperti nasi kemarin yang tidak lengket lagi dan nikmat untuk dibuat nasi goreng esok paginya.

*

Masa kecil saya puas diisi main layangan.. meski bermain bukan di tanah lapang, tapi angin kota Bogor tidak pernah pelit untuk selalu membantunya melambung ke langit.

Dengan lagak mantri ukur tanah, saya bolak balik memeriksa kepatutan segitiga benang tali kamah sepanjang tiga jengkal berlapis dua yang diselipkan diantara rangka layangan.

Sahabat, sudikah bantu pegang layangan di sini, ya.. seperti itu dan saya akan berlari ke ujung sana sambil mengulurkan benang.. sekarang angkat layangannya .. dan lepaskan..

Horee.. layangan terbang tinggi menantang derasnya angin. ‘Kita tidak adu ya!’ benang terasa berdenyut kencang, ketika kami sepakat membiarkannya menari di atas awan  sana..

Amboi.. indahnya sore itu.

Iklan

Tentang Keping Hidup

Coretan kisah, renungan, makna untuk menyusun keping pengalaman hidup menjadi sebuah gambar utuh yang indah, semoga...
Pos ini dipublikasikan di Daily life dan tag , , , , , , , , , , , . Tandai permalink.

38 Balasan ke Menari di awan

  1. didin berkata:

    gambarnya emang bagus banget 😀 anak yg pinter 😀

  2. nh18 berkata:

    Tali Kamah …
    Singit …
    Benang Gelasan …
    Lem “K” …

    Ah kayaknya baru kemarin saya bermain layangan …

    (ssstttt tapi jujur pak … saya maen layangannya yang pake ekor …)(bukan layangan aduan)(jadi nggak ada yang berani deketin …)

    (dan temen sepermainan saya bilang … Aaahhhh cemen loh … masak layangannya berekor …)

    hahaha …
    dari pada dimarahin Ibu … beli layangan melulu …

    Salam Saya
    Dan terima kasih telah mengingatkan akan masa kecil yang indah …

  3. bayuputra berkata:

    wah saya sampe bingung nyari tempat comentnya … kewkeke.. taunya di sebelah …

  4. bayuputra berkata:

    wah main layangan yah … hee kalau urusan itu saya jagonya xixixi tapi waktu kecil dulu … heee…

  5. atmakusumah berkata:

    Postingan ini mengingatkan masa kecil, yang pulang menjelang maghrib dengan badan bau lumpur, karena sawah orang diinjak2 ngejar layangan :mrgreen:

    • mycorner berkata:

      Kalau sedang mengejar layangan, mata biasanya tertuju pada layangan.. jadi bisa kesandung dan jatuh gedubrak.. 😀

      Tapi ada yang bawa galah tuh.. licik 😀

  6. Asop berkata:

    Saya….
    Masa kecil saya…
    jarang bermain layangan…. 😦

  7. Kang Bondan berkata:

    ah, terbawa suasana sore itu…

  8. sunarnosahlan berkata:

    indah nian bernostalgia masa kanak-kanak

  9. Didien® berkata:

    hehehe..kalo main layangan saya jadi ingat waktu di kampung dulu..ditengah sawah di saat terik rasanya asik² aja…

    salam, ^_^

  10. Caride™ berkata:

    pasti putranya sepandai bapaknya….hehe…

  11. Sapril berkata:

    Jadi teringat tangan yang berdarah karena tersayat benang gelasan made in sendiri. gelasnya kurang halus, mainnya ga pernah pakai sarung tangan. Kalah pula! Ah, tetap saja pertarungan yang hebat sore itu 🙂
    Terimakasih sudah memanggil kembali kenangan itu pak Indra 🙂

  12. Usup Supriyadi berkata:

    wah, saya mah indak bisa main layangan . :mrgreen:

    tapi sering ikutan ngejar-ngejar layangan putus kok 😆

  13. khatulistiwa berkata:

    hmm..saya pernah punya layangan kesayangan. tak susah untuk menaikkan layanganku kala itu…jadi tak perlu merepotkan kawan lain. itu yang membuat aku suka layangan itu. benang tinggal ku ikat di batang pohon..layangan saya pegang dari kejauhan trus dilepaskan ke atas…layangan naik sendiri dan hanya batang pohon yang memegangnya..suatu ketika tak sengaja kaki saya menyentuh benang dan putus..waduuh layanganku putus..aku kejar dan mengejarnya sampai di pegunungan hutan belakang rumah..HILANG..dan pulang dengan air mata bercucuran

  14. ian abuhanzhalah berkata:

    loh blogor ( blogger bogor ) juga y..salam kenal ^^
    makasih dah berkunjung

  15. ian abuhanzhalah berkata:

    owh hehe..
    saya juga di bogor mas ^^
    kalo ke bogor main mas ke tempat saya xixi
    yup tukeran link y
    marii

  16. winant berkata:

    sudah lama sekali tidak main layangan
    meski harus jatuh bangun ada kebanggan saat sang layang-layang terbang di angkasa
    dan anak sekarang pun lebih tekun di depan tv, menterjemahkan dengan gaya bocahnya
    lahirlah remaja yang dewasa karena karbitan…….

  17. Prima berkata:

    Saya gak pandai menaikkan, selalu minta tolong teman, terus saya yang pegang, hahhahahahhaa…. waktu kecil, layang2 bagi saya seperti perpanjangan mata hati, jika sedang pegang layangan saya suka menghayal menjadi layangan, melihat bumi dari atas, kemudian saya berdoa kepada Tuhan, minta layang-layang yang sampaikan soalnya layang-layang dekat dengan langit… 🙂

  18. Ping balik: NINE FROM THE GENTLEMEN (#1) | The Ordinary Trainer writes …

  19. daffa keren berkata:

    wow,bagus banget gambarnya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s