Mengakulah..

Ini bukan postingan serius yang membahas kesemrawutan yang kita tonton setiap hari, sampai kita tidak mengetahui lagi siapa yang benar dan siapa yang salah..

Mengakulah adalah dua cerita yang mudah-mudahan bisa membuat tersenyum hari ini.. begini ceritanya:

~

# 1 : Di tempat kerja

Seorang profesor terlihat bingung mencari sesuatu.. rekan di samping yang melihatnya kemudian bertanya.

Rekan : ‘cari apa prof ?’

Profesor : ‘pulpen saya.. dimana ya?..’

Rekan : ‘itu ada di telinga prof..’

Profesor memeriksa telinganya dan menemukan pulpen kemudian  berkata..

Profesor : ‘iya.. tapi bukan pulpen ini yang saya cari..’

~

# 2 : Di rumah

Walaupun sudah sering dinasehati, anak-anak punya kebiasaan cepat menjawab tapi seringkali tidak dapat dipertanggung jawabkan kebenarannya.

Misalnya.. saya menemukan sajadah sehabis sholat masih terbentang dan tidak dilipat, lalu bertanya : ‘siapa ini yang sholat terakhir?’

Jawabnya : ‘bukan aku..’, ‘bukan aku..’, ‘bukan aku..’ kata tiga anak laki secara berurutan.. nah lho bingung khan.. akhirnya saya juga yang harus melipatnya.

Sampai kemarin sore, istri masuk ke kamar mandi dan banyak jejak kaki hitam yang sangat terlihat di lantainya yang kebetulan putih.  

“Siapa yang kakinya kotor?’ tanya istri dan sudah bisa ditebak serentak koor seperti biasa ‘bukan aku..’, ‘ bukan aku..’, ‘bukan aku..’

Tapi kali ini kami mengetahui siapa pelakunya.. karena jejak kakinya kecil dan dengan mudah mengetahui siapa pelakunya.. 

Ya.. sore itu kami sekeluarga tertawa ketika si bungsu ‘tertangkap’ tidak bisa menghindar lagi… ayo ngaku!

Iklan

Tentang Keping Hidup

Coretan kisah, renungan, makna untuk menyusun keping pengalaman hidup menjadi sebuah gambar utuh yang indah, semoga...
Pos ini dipublikasikan di Daily life dan tag , , , , , , , , , , . Tandai permalink.

23 Balasan ke Mengakulah..

  1. zee berkata:

    Hhahahahaaa….. ketauan ya, kakinya paling kecil pulak.

  2. engkaudanaku berkata:

    Akhirnya…

    Si Kecil

    Ketahuan,

    😀

    Semoga ia telah di maafkan, 🙂

  3. Usup Supriyadi berkata:

    😆
    kayaknya yang dicari tuh Professor pulpen yang mahal deh . 😆

    well, ngakaka gan 😆

  4. Ifan Jayadi berkata:

    Namanya juga anak-anak. Pengennya benar terus dan nggak pengen disalahin. Apakah kita2 termasuk seperti itu dulunya?

  5. citromduro berkata:

    jangankan anak-anak
    kadang yang dewasa saja sulit untuk mengaku

  6. caride berkata:

    cerita yg pertama saya penah ngalamin tuh hehehehe…malu juga sih 😀

  7. lyna riyanto berkata:

    kita yang dewasa juga kadang sulit untuk mengakui kesalahan, selalu mencari pembenaran atas kekeliruan.
    mengakui kesalahan memerlukan jiwa besar dan kerendahan hati kita

    Salam kenal 🙂

  8. Asop berkata:

    Hahahaha… bisa membuat tersenyum… 🙂

  9. Sapril berkata:

    Jadi ingat satu sore sebelum pulang dari kantor. Lagi beberes barang masukin semua hal ke dalam tas, si Yayang telpon. begitu mau ngunci pintu, kelabakan kalo handphone ga ada dalam kantong. Saya bilang sama Yayang, “Bentar Yang, nyari henpon.” Nah, si Yayang dengan bingungnya jawab, “Lah Bang, yang sedang dipake buat telpon ini apa?” Gubraaakkkz… parah ya saya.

  10. ian abuhanzhalah berkata:

    he he he
    ngeles MODE ON xixi

  11. Prima berkata:

    Hahahhaahha…simple dan menghibur, saya betah di blog ini 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s